Pertemuan The Focal Person Of The High-Level Task Force on ASEAN Economic Integration (HLTF-EI) FP

Pertemuan The Focal Person Of The High-Level Task Force On ASEAN Economic Intgeration (HLTF-EI) berlangsung pada tanggal 12 oktober 2020 membahas ekonomi dunia pada saat pandemi COVID-19. Ekonomi dunia turut terpengaruh karena adanya pembatasan berskala besar yang berdampak pada proses produksi, bisnis dan tenaga kerja. Hal ini juga yang meningkatkan  perkembangan Isu Global “Krisis Finansial Global dan Corona Virus Diseases 2019 (COVID-19)”.  , Delegasi Indonesia di pimpin oleh Netty Muharni, Asisten Deputi Kerjasama Ekonomi Regional & Sub Regional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Sedangkan pada Pilar ekonomi, ASEAN telah menyepakati The Hanoi Plan of Action on Strengthening ASEAN Economic Cooperation and Supply Chain Connectivity in Response to the COVID-19 Pandemic. Sementara pada ketiga pilar dibentuk The COVID-19 ASEAN Response Fund dan pembentukan ASEAN Comprehensive Recovery Framework serta kerja sama dengan negara mitra.

Isu Pandemi Covid-19 yang berkembang saat ini mengharuskan ASEAN untuk meninjau/memperhatikan kembali agenda integrasi ekonomi kawasan. Beberapa diantaranya yaitu Global Value Chain, transformasi digital, mitigasi krisis, pembangunan di kawasan, posisi ASEAN ditengah perkembangan geopolitik dan geoekonomi dan menumbuhkan kembali ekspektasi akan pembangunan

HLTF-EI merupakan main focal point untuk MTR dan mencatat perlunya segera diselesaikan mengingat perubahan tantangan dunia seperti COVID-19 . Sesuai dengan Annotated Outline, MTR Report akan terdiri dari 4 komponen yaitu:

  1. Strategic landscape review
  2. Comprehensive compliance monitoring
  3. Outcomes and impact-level assessment
  4. Recalibration of AEC implementation

Masih dalam konteks pandemic covid-19, covid-19 telah berdampak pada Kesehatan dan ekonomi. Maka diterapkan sistem teknologi informasi mendukung pekerjaan maupun aktivitas perdagangan.  Dalam sektor manu faktur juga sudah mulai menuju digitalisasi untuk menyebarkan informasi secara luas seperti IoT, AI, 3D printing dsb.

 

Oleh karena itu Indonesia mendukung agar upaya kolektif ASEAN untuk mengonsolidasikan strategi 4IR melalui ASEAN Consolidated Strategy on 4IR dapat diimplementasikan secara holistic oleh ketiga pilar ASEAN.

Indonesia juga mencatat bahwa pandemi covid-19 telah mengekspos kerentanan sektor jasa seperti transportasi dan akomodasi akibat kebijakan travel bans, lockdown dan social distancing. Persentase implementasi Prioritas Tahunan juga masih tergolong rendah. Tercatat tingkat implementasi pada tahun 2017 sebesar 61%. Tahun 2018 naik menjadi 72.65% sedangkan di tahun 2019 implementasinya sebesar 74%. Selain itu hambatan juga muncul dari prioritas-prioritas carried over. Maka dari itu diperlukan pemetaan prioritas carried over dan action lines yang masih bersifat pending untuk dilakukan telaah masalah dan solusi penyelesaian.

Indonesia saat ini telah mengembangkan dan mengimplementasikan sistem monitoring evaluasi implementasi Annual Priority AEC Blue Print 2025 yang dinamakan STORMEA. Sistem ini melibatkan seluruh K/L dibawah AEC. Melalui penerapan sistem ini diharapkan pengawasan implementasi cetak biru akan lebih efektif dan efisiensi karena dapat dilakukan secara real time dan dapat diakses di manapun dan kapan pun.