Pertemuan Dewan MEA Ke-19 Bahas Pemulihan Ekonomi ASEAN hingga Evaluasi Cetak Biru MEA 2025

Jakarta, 10 November 2020. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menghadiri Pertemuan ke-19 Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang diketuai oleh Vietnam secara virtual dengan di dampingi oleh Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional, Rizal Affandi Lukman, dan Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan, Imam Pambagyo.

Terdapat 5 (lima) agenda yang dibahas pada pertemuan ini yakni perkembangan penyelesaian prioritas Keketuaan Vietnam, Mid Term Review (MTR) AEC Blueprint 2025, Laporan AECC kepada Presiden pada KTT ASEAN, Upaya Pemulihan Ekonomi ASEAN/ASEAN Comprehensive Recovery Framework (ACRF), dan Perkembangan Fourth Industrial Revolution (4IR).

Agenda pembahasan pertama adalah perkembangan penyelesaian Prioritas Keketuaan Vietnam dimana 7(tujuh) prioritas telah selesai dari 13 prioritas yang ada. 1 (satu) prioritas akan diselesaikan pada KTT RCEP ke-4, 3 (tiga) masih berstatus on going dan diharapkan selesai sebelum tahun 2020 berakhir, serta 2 (dua) prioritas lainnya yang juga on going diharapkan selesai Januari 2021.

Menko Airlangga selaku Ketua Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Indonesia mendorong penyelesaian 6 (enam) prioritas yang tersisa dan mengharapkan agar Brunei Darussalam selaku Chair ASEAN tahun 2021 dapat menyinergikan prioritas

ekonomi tahun 2021 dengan upaya pemulihan ekonomi Kawasan yang telah disepakati yakni ASEAN Comprehensive Recovery Framework (ACRF).

Agenda selanjutnya yang dibahas adalah Mid-Term Review (MTR) AEC Blueprint 2025. MTR ini memberikan informasi komprehensif terkait perkembangan integrasi ekonomi di ASEAN selama 5 tahun terakhir. Hasil review ini nantinya akan dijadikan dasar dalam upaya peningkatan implementasi measures lima tahun ke depan.

Pada pertemuan ini, AEC Council memberikan endorsement pada ASEAN Declaration in Digital Tourism. Deklarasi ini merupakan inisiatif para Menteri Pariwisata ASEAN dalam menindaklanjuti arahan Leaders ASEAN yang menekankan pentingnya mempersiapkan masa depan ASEAN melalui penggunaan Teknologi Digital yang maju. Deklarasi ini juga akan disampaikan dan diadopsi pada pertemuan KTT ASEAN ke-37. Salah satu tujuan dari Deklarasi ini adalah mendorong penggunaan solusi digital untuk mempromosikan, kemanan, dan kelancaran perjalanan di ASEAN baik selama masa pandemi COVID-19 maupun setelahnya.

“Dengan adanya deklarasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan industri pariwisata melalui transformasi digital  agar dapat mendorong percepat pertumbuhan ekonomi,” imbuh Menko Airlangga.

Pembahasan selanjutnya yang tidak kalah penting adalah terkait upaya pemulihan ekonomi ASEAN dimana telah terdapat kerangka yang dikenal ASEAN Comprehensive Recovery Framework (ACRF). ACRF ini melibatkan seluruh pilar ASEAN, terutama pilar ekonomi, dengan fokus pada penanganan dampak COVID-19 yang cepat dan fleksibel, serta memiliki beberapa fase yaitu reopening, recovery, dan resilient. Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti arahan Leaders pada KTT ASEAN ke-36 tanggal 26 Juni 2020 untuk melakukan pemulihan ekonomi akibat dampak COVID-19.

5 strategi ACRF yang dipersiapkan yaitu untuk meningkatkan sistem kesehatan, memperkuat ketahanan manusia, memaksimalkan potensi pasar intra ASEAN, mempercepat digitalisasi yang inklusif, dan menuju masa depan yang lebih Tangguh dan berkelanjutan.

Pada kesempatan ini, Menko Perekonomian menyampaikan respons kebijakan yang telah diambil pemerintah Indonesia melalui Program Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) dan menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam pelaksanaan pemulihan ekonomi di Indonesia dan ASEAN.

“Pemerintah Indonesia berharap bisa memperkuat kerja sama ekonomi antar AMS untuk mempercepat upaya pemulihan ekonomi melalui sinergi pemerintah dan swasta. Selain itu, dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia,” kata Menko Perekonomian.

Adapun isu yang dibahas terkait perkembangan Fourth Industrial Revolution (4IR) di ASEAN. Perkembangan 4IR semakin disorot, terlebih dengan adanya Pandemi COVID-19. Hal ini menjadi momentum bagi ASEAN, khususnya Indonesia untuk mengintensifkan upaya transformasi ekonomi, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan mempercepat transformasi digital. Ini juga di perkuat oleh pernyataan tegas Airlangga yang menyatakan “Indonesia mendukung inisiatif ini sebagai salah satu upaya Indonesia dalam mewujudkan Prioritas Nasional Making Indonesia 4.0,”.

Tidak ketinggalan dalam pertemuan itu Menko Perekonomian melakukan endorsement terhadap 4 (empat) dokumen yaitu: (1) AEC Council Report to the 37th ASEAN Summit; (2) Preliminary Report of the MTR of the AEC Blueprint 2025; (3) the AEC section of the draft Chairman’s Statement for the 37th ASEAN Summit; dan (4) ASEAN Declaration on Digital Tourism. Param Menteri Ekonomi ASEAN juga menandatangani Memorandum of Understanding on Non-Tariff Measures on Essential Goods secara virtual. Indonesia diwakili oleh Menteri Perdagangan dan disaksikan Menko Perekonomian.