Pertemuan 39TH HLTF-EI: Implementasi Kerangka Kerja Pemulihan Pandemi COVID-19 di ASEAN sebagai Salah Satu Isu Strategis di ASEAN

Jakarta, 22-2-2021.  Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional, Dr. Rizal Affandi Lukman memimpin delegasi Indonesia pada Pertemuan the Thirty-Ninth Meeting of the High-Level Task Force on ASEAN Economic Integration (the 39th HLTF-EI) yang dilaksanakan secara virtual pada Senin (22/02) di Jakarta. Pertemuan yang dipimpin oleh Mr. Gabriel Lim dari Singapura ini dihadiri oleh seluruh HLTF Leads dari seluruh negara angota ASEAN.

HLTF-EI merupakan think-tank working group ASEAN di bidang ekonomi yang membahas isu-isu strategis dan memberikan rekomendasi kepada Menteri Ekonomi ASEAN (AEM). Salah satu isu strategis yang dibahas pada pertemuan ini adalah implementasi upaya Pemulihan Perekonomian ASEAN/ASEAN Comprehensive Recovery Framework (ACRF). ACRF merupakan kerangka kerja pemulihan akibat dampak pandemi COVID-19 ini telah diadopsi Leaders pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-37 tanggal 12 November 2020.

Hingga 17 Februari 2021, dari total 183 inisiatif ACRF yang terbagi dalam 5 broad strategy, 24 inisiatif diantaranya telah selesai diimplementasikan. Tahun 2021 diharapkan beberapa inisiatif kunci dapat diimplementasikan, antara lain ASEAN Travel Corridor Arrangement Framework, dan beberapa inisiatif Priorities Economic Deliverables (PED) Brunei 2021 seperti Rencana Pemulihan Pariwisata ASEAN, Strategi Konsolidasi Revolusi Industri 4.0, dan Toolkit Hambatan Non-tariffs (NTMs).

Indonesia menggarisbawahi critical role vaksinasi dalam pemulihan ekonomi di kawasan dan mendorong agar penyediaan dan akselerasi vaksin di ASEAN menjadi dasar dalam mewujudkan keberhasilan pemulihan ekonomi di ASEAN. Terkait dengan penerapan Non-tariff Measures (NTMs), Indonesia menyampaikan perlunya dikaji lebih lanjut bagaimana NTM dapat tercapai dengan efektif dan tidak justru menjadi non-tarrif barrier.

Selain pada intervensinya Indonesia mendorong kerja sama Comformity Assesment Procedurs dan Mutual Recognition Arrangement antar negara Anggota ASEAN dengan menetapkan sektor prioritas yang memiliki dampak ekonomi terbesar bagi ASEAN.

Beberapa isu strategis lainnya yang dibahas pada pertemuan ini adalah PED Brunei Darussalam 2021, Circular Economy, Mid-Term Review of the AEC Blueprint 2025, ASEAN Post 2025, The Fourth Industrial Revolution 4IR, Criteria and Approach to Guide ASEAN’s Strategic Economic Engagement with External Parties dan isu lainnya.

Pada akhir sesi pertemuan juga dibahas beberapa hal yang menjadi rekomendasi pada Menteri Ekonomi ASEAN. Rekomendasi yang telah disepakati antara lain: Melakukan endorsement terhadap PED di bawah Keketuaan Brunei Darussalam, menyetujui penambahan daftar produk makanan yang dianggap penting ke dalam list of essential goods, mendukung penyusunan Strategi Konsolidasi Revolusi Industri 4.0 (4IR) untuk ASEAN dan mendukung dibentuknya dibentuknya Lead Sectoral Bodies untuk menangani isu 4IR secara holistik di ASEAN.

Pertemuan ini juga telah melakukan adopsi pada dokumen revisi Term of Reference (TOR) HLTF-EI. Indonesia menyambut baik beberapa poin penting yang tercantum dalam revisi TOR HLTF-EI antara lain yang menegaskan bahwa scope of work HLTF-EI adalah sebagai advisory and monitoring body untuk mendiskusikan isu-isu strategis dalam memajukan agenda integrasi ekonomi di ASEAN dan mekanisme reporting baru pada Menteri Ekonomi ASEAN dan Dewan MEA  mengingat semakin banyaknya isu lintas sektoral di bawah AEC. Berikutnya, Pertemuan juga mencatat ketentuan Keketuaan HLTF sesuai TOR akan mulai berlaku tahun 2022 atau berdasarkan kesepakatan pembicaraan berikutnya dan disetujui Singapura tetap menjabat sebagai Chair hingga akhir tahun 2021.