Penajaman Priority Economic Deliverables (PED) Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023

Jakarta, 30 April 2021, telah berlangsung Focus Group Discussion (FGD) putaran ke-3: Penajaman Priority Economic Deliverables (PED) Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023. Kegiatan yang diinisiasi Keasdepan Kerja Sama Ekonomi Regional dan Sub Regional, Deputi Bidang Koordinasi Kerjasama Ekonomi Internasional, merupakan unit teknis pelaksana Kerjasama ekonomi ASEAN. Hal ini karena Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian merupakan ASEAN Economic Community (AEC) Council Minister sekaligus Ketua Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Indonesia yang mewakili Indonesia sebagai Forum Menteri Dewan MEA ASEAN dan penanggungjawab atas pelaksanaan MEA di Indonesia seta mengkoordinasikan badan kerja sektoral.

Indonesia merupakan negara terbesar sekaligus Pemimpin ASEAN yang telah melahirkan berbagai gagasan besar yang menjadi rujukan dalam Kerjasama ASEAN.  Mulai dari hasil  Bali Concord I tahun 1976 melahirkan Deklarasi Kerukunan ASEAN; Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (TAC); serta Persetujuan Pembentukan Sekretariat ASEAN di Jakarta, Bali Concord II tahun 2003 melahirkan berdirinya Komunitas ASEAN terdiri atas 3 (tiga) pilar termasuk di dalamnya Pilar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Bali Concord III tahun 2011 melahirkan ASEAN Community in a Global Community of Nations, salah satunya adalah pembentukan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang merupakan salah satu blok perdagangan terbesar di dunia.

Dari 3 kali Keketuan Indonesia di ASEAN, telah lahir berbagai gagasan besar yang telah menjadi landscape kejasama ASEAN, sehingga pada Keketuaan yang ke-4 tahun 2023, diharapkan gagasan besar Indonesia akan lahir Kembali untuk memperkuat ASEAN baik bagi negara anggota maupun mitra dialog yang semakin bertambah banyak. Oleh karena itu, untuk memperkuat dan mempertajam tema Keketuaan Indonesia, khususnya di bidang ekonomi, telah dilaksanakan FGD ke-3 ini.   Diharapkan pemikiran narasumber maupun masukan peseta FGD akan menjaring inisiatif Priority Economic Deliverable (PED) guna memperkuat dan menajamkan Keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2023.

Pada Keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2023, akan menjadi tantangan tersendiri di tengah masih berlangsungnya Pandemic Covid-19 saat ini, transformasi ekonomi digital, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Untuk itu Indonesia harus dapat menempatkan kepentingan nasionalnya di SSEAN serta membawa perkembangan bagi ASEAN itu sendiri.

FGD dilaksanakan secara hybrid dan disiarkan secara live melalui kanal You Tube dengan menghadirkan 3 (tiga) narasumber yang kompeten yakni Ade Padmo Sarwono, Duta Besar (Dubes) Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk ASEAN, Panut Mulyono, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Hadi Kuntjara, Direktur Eksekutif The Habibie Center (THC). FGD dibuka oleh Rizal Affandi Lukman, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional, Rizal Affandi Lukman dengan moderator Netty Muharni, Asisten Deputi Kerjasama Ekonomi Regional dan Sub Regional. Acara ini diikuti dengan antusia oleh sekitar 100 peserta yang berasal dari Kementerian/Lembaga terkait serta beberapa Lembaga penelitian/think thank.

Dalam opening remarks nya Rizal Laffandi Lukman mengggarisbawahi sinergi antara Keketuaan Indonesia di ASEAN dengan berbagai forum internasional seperti G-20 dan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). “Sinergi prioritas menjadi kata kunci untuk memastikan bahwa kepentingan Indonesia dapat diwujudkan di ASEAN, APEC dan G-20. Keterlibatan aktif dalam forum-forum ini tidak lain untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi” ujar  Rizal Affandi Lukman dalam opening remarks nya.

Sebagai pengantar diskusi, Netty Muharni selaku moderator menyampaikan bahwa FGD kali ini merupakan putaran ke-3 pada series FGD yang telah dilaksanakan sebelumnya yakni dengan melibatkan K/L terkait, kalangan bisnis, dan Pusat Studi ASEAN.  Terdapat 5 area PED yaitu economic recovery, sustainability, resilience, inclusiveness, dan digital economy. Selain itu melalui acara ini dimungkinkan juga adanya area/usulan/inisiatif baru untuk keketuaan tahun 2023.

Untuk mencapai tujuan FGD dalam melakukan penajaman PED Keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2023, Ade Padmo Sarwono menggarisbawahi pentingnya pemilihan tema dengan mempertimbangan karakteristik dan situasi-kondisi kawasan dan dunia. Dalam Keketuaan ASEAN 2023, fokus keketuaan perlu diarahkan pada salah satu pilar misalnya ekonomi dengan menitikberatkan kepentingan nasional Indonesia, isu-isu yang berkembang dalam presidensi Indonesia di G20 agar in line dengan ASEAN. Pemulihan ekonomi pasca COVID serta memanfaatkan kerja sama eksternal yang semakin bertambah dapat menjadi inisiatif, serta beberapa usulan/pemikiran prioritas ekonomi antara lain: Tourism, TVET, Digitalization, Connectivity, MSME, Creative Economy dan Green Economy.

Panut Mulyono meng-highlight pentingnya sains dan teknologi (SAINSTEK) pada era Masyarakat 5.0 serta perkembangan inovasi teknologi dan Revolusi Industri 4.0 yang telah mengubah perilaku dan peradaban manusia saat ini. Tentunya hal tersebut menuntut kita untuk dapat menguasai teknologi kunci, diantaranya adalah teknologi kecerdasan buatan (AI), sensor, robot, machine learning dan big data. Namun di sisi lain penguasaan terhadap teknologi tersebut juga harus diiringai dengan skill  lainnya dan human literacy lain seperti kemampuan komunikasi, kreatifitas, dan sebagainya.

Selanjutnya, Hadi Kuntjara menyampaikan hasil analisanya keterkaitan antara PED, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 serta Visi Indonesia 2025.  “Pada dasarnya isu global yang berpotensi diangkat pada Keketuaan Indonesia tahun 2023 adalah pengembangan perdangan dan investasi, ekonomi kesehatan, akselerasi teknplogi dan ekonomi hijau. Akselerasi ekonomi dapat dicapai dengan ratifikasi RCEP dan FTA lainnya. Percepatan teknologi dapat dicapai melalui percepatan digitalisasi ekonomi.”

FGD menggarisbawahi beberapa usulan PED yang berkarakter Indonesia seperti Blue & Green Economy, Tourism, Vokasi, Digitalization, Connectivity, UMKM, Creative Economy dan Sainstek. Pada akhir pertemuan diharapkan perlunya pembahasan usulan PED tersebut dan harapan agar Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023 dapat menjadi kendaraan dalam pencapaian kepentingan ekonomi nasional dan kawasan.